Program

Kegiatan

Siswa & Guru

- Tenaga Kependidikan
- Peserta Didik
 

Observasi Calon Siswa Tahun Ajaran 2015/2016

Rabu, 10 Desember 2014


Pada hari Sabtu yang lalu (6 Desember 2014), kami telah melaksanakan kegiatan observasi calon siswa baru (untuk tahun ajaran 2015-2016) yang sudah mendaftarkan diri di SD Islam Ramah Anak. Kegiatan yang diikuti oleh 37 calon siswa baru ini bertujuan untuk mengamati kekhususan masing-masing calon siswa yang nantinya akan mengikuti proses pendidikan di SD Islam Ramah Anak.


Adapun jumlah pendaftar hingga hari ini adalah 52 calon siswa dari kuota 90 orang. Insya Allah untuk tahun ajaran yang akan datang, siswa satu level akan dibagi menjadi 3 kelas (tiap kelas 30 anak dengan 2 orang guru). Pendaftaran akan ditutup jika kuota 90 calon siswa telah terpenuhi.

Kecanduan Mendidik Anak

Rabu, 21 November 2012


Berikut ini kami share artikel dari www.senyumanak.com yang cukup inspiratif, sebuah penuturan yang tampaknya diambil dari kisah nyata seseorang yang akhirnya menjadikan kegiatan mendidik anak sebagai salah satu fokus hidupnya. Maka, diberilah judul yang cukup renyah, "Kecanduan Mendidik Anak". Berikut ini tulisan lengkapnya:


Kecanduan Mendidik Anak

Aku punya seorang teman yang ahli komputer. Spesialisasinya adalah linux, BSD, dan semacam itu. Dia menggeluti hal tersebut sejak SMA. Sehingga ketika kuliah, dia sudah terbiasa berurusan dengan CLI (Command Line Interface), serta melakukan hacking pada komputer dan situs orang lain. Ketika ditanya apa rahasianya, temanku menjawab, "Jangan maen game komputer!"

Aku yang saat itu berstatus sebagai pecandu game komputer, tak  terima dengan pernyataannya. Menurutku, bermain game komputer itu sebuah hal yang mengasyikkan dan memberi manfaat yang sangat banyak. Dengan bermain game strategi, kemampuanku untuk membuat perencanaan dan evaluasi akan lebih terlatih. Dengan bermain game arcade, kemampuan refleksku akan lebih cepat dan terkendali. Dengan bermain game online, kemampuan sosialisasiku bisa lebih terasah. Prinsip dan pembenaran ini kupegang puluhan tahun hingga aku menikah dan memiliki seorang anak.

Suatu ketika, aku mulai kecanduan salah satu game online. Game bergenre RPG ini gratis dan bebas dimainkan setiap saat. Game online ini merupakan perpaduan game arcade, strategi, dan game kerjasama sehingga mengharuskanku berinteraksi dengan pemain lainnya. Game yang sangat sempurna menyita waktu dan fokus perhatianku.

Banyak tugas dan pekerjaan yang terabaikan akibat bermain game ini. Bahkan ada satu proyek besar yang gagal kutuntaskan sehingga aku di black list oleh orang yang memberi proyek tersebut. Tapi aku tetap bergeming. Aku tetap hidup dalam 2 dunia, dunia nyata, dan dunia game online yang kumainkan.

Hingga suatu malam, ketika aku begadang, terlarut dalam dunia game, anakku Farid terjatuh dari tempat tidur. Aku yang sedang asyik tak menyadari bahwa Farid tidur sambil guling kanan kiri, sehingga membuatnya semakin mendekati pinggir tempat tidur. Aku yang sedang berada dalam dunia keduaku itu baru tersadar ketika mendengar bunyi BUKKK yang sangat keras. Bunyi itu disusul dengan tangisan anakku yang jatuh dari ketinggian kurang lebih 50 cm.

Aku seperti ditampar ditonjok. Aku langsung bangkit menghampiri anakku, memeluk, kemudian menggendongnya. Tangisku pecah mengiringi tangis anakku. Bahkan ketika anakku berhenti menangis, aku tetap tak dapat menahan aliran air mata ini. Aku merasa bersalah. Yap, aku sangat bersalah.

Syukurlah, anakku baik-baik saja. Dia bahkan kembali tertidur tenang setelah tangisnya berhenti. Tertidur dalam pelukanku. Yang terluka saat itu justru aku. Tangisan dan omelan istriku seakan menghantuiku. Bahkan sampai berbulan-bulan kemudian, jika aku mendengar suara BUKKK, spontan aku menengok kanan kiri mencari anakku. Teringat lagi kejadian itu.

Malam itu juga aku menghapus seluruh game di komputerku. Aku tak mau terlarut lagi dalam dunia palsu. Aku ingin membuktikan bahwa aku menyayangi anakku. Tak sekedar kata dan rasa, sayang ini harus kubuktikan dalam pemikiran dan perbuatan.

Sejak saat itu aku menjadikan pendidikan anakku sebagai fokus hidupku. Aku mendedikasikan seluruh waktuku untuk menjadikan Farid seorang anak sholeh yang hebat, sehat, kuat. Aku berusaha mewujudkan cita-citaku, menjadikan anakku Farid seorang penghafal dan pengamal 30 juzz Al Qur'an. Sehingga jika ku menghadap Yang Kuasa, aku dapat mempertanggungjawabkan amanahku sebagai orang tua.


NB:
Ternyata bukan hanya bermain game komputer saja yang mampu merusak konsentrasiku. Menonton TV, Facebook-an, Twitter-an, dan browsing-browsing gak jelas juga mampu mengganggu konsentrasiku dalam mendidik anak.

Belajar di Peternakan Ayam


Salah satu metode pembelajaran di SDI Ramah Anak Depok adalah belajar dengan mendatangi dan melihat langsung lokasi dan suasana tempat yang dijadikan objek pembelajaran. Di antaranya, dekatnya lokasi SDI Ramah Anak Depok dengan perkampungan yang di lingkungannya terdapat peternakan ayam potong, maka hal ini dimanfaatkan untuk kegiatan pembelajaran.

Para siswa diberi kesempatan berkunjung ke lokasi peternakan ayam didampingi Bapak dan Ibu Guru. Tentu saja kegiatan ini menyenangkan bagi para siswa karena mereka tidak harus selalu berada di ruang kelas atau di dalam lingkungan sekolah. Selain itu, siswa pun antusias mengikuti pelajaran melalui pengarahan gurunya secara dialogis dan interaktif. Dengan demikian, belajar tidak hanya menyenangkan namun juga berkesan dan efektif.


Di dalam peternakan ayam, siswa dijelaskan mengenai bagaimana binatang ternak atau binatang peliharaan pun harus diberikan pelayanan dan perawatan yang baik, seperti pengaturan ventilasi udara, pencahayaan, pemberian makanan dan suplemen, pengobatan jika ada yang sakit dan seterusnya. Dan penjelasan itu tidak dilakukan hanya searah oleh Bapak dan Ibu Guru, namun para siswa diberikan kesempatan untuk mengutarakan opini dan pendapatnya. Jadi, banyaklah manfaat yang didapatkan siswa dengan model pembelajaran ini, tidak hanya berkaitan dengan objek pembelajaran, namun juga metode pembelajaran yang berkesan dan mengena (contextual teaching and learning). Semoga ke depannya SDI Ramah Anak Depok tetap menghadirkan terobosan-terobosan dalam proses pembelajaran yang ramah anak. []

Pola Asuh Anak Gaza Palestina

Senin, 19 November 2012


pola asuh anak gaza palestina

Keamanan. Mungkin ini merupakan salah satu faktor pendukung terpenting dalam pola asuh dan pendidikan anak. Tak terbayang olehku jika aku dalam suasana perang, ketakutan, letusan senjata dimana-mana, dentuman bom yang setiap saat merenggut jiwa, dan aku masih bisa mendidik anakku dengan baik. Membayangkannya saja sudah cukup menakutkan bagiku. Apalagi tinggal di dalamnya. Di sebuah medan perang.

piramida kebutuhan maslow pola asuhKeamanan. Adalah Abraham Maslow yang memasukan faktor tersebut kedalam piramida kebutuhan, sebagai faktor terpenting, setelah tercukupinya kebutuhan fisiologikal. Tanpa keamanan, akan sulit - jika tak dibilang mustahil - untuk mewujudkan kebutuhan di atasnya, seperti cinta, keluarga, harga diri, percaya diri, sampai aktualisasi diri.



Jadi, bagaimana caranya mendidik anak tentang cinta, keluarga, percaya diri, tanpa adanya keamanan? Apakah bisa dalam suasana perang yang mencekam, kita mengajarkan kasih sayang kepada anak kita?

Aku jadi teringat tentang kisah anak-anak penghafal Qur'an di Gaza, Palestina. Sejak kecil, anak-anak Gaza dididik untuk berinteraksi dengan Al Qur'an. Dimulai dari keluarga, dan difasilitasi oleh pemerintah, anak-anak ini tersebar dalam ratusan pusat penghafal tahfidz Qur'an yang ada di seluruh jalur Gaza.

Program "Generasi Qur'an untuk Al Aqsha" ini sukses mencetak 870 anak penghafal 30 Juzz Al Qur'an (pada tahun 2010). Sementara puluhan ribu anak yang lain, masih intensif belajar dan menghafal Al Qur'an. Siap diwisuda untuk menjadi seorang Al Hafidz, penghafal 30 juzz Al Qur'an.

Keamanan. Sesuatu yang jarang ditemukan di Gaza, ternyata bukanlah syarat mutlak untuk mencetak generasi Qur'an. Di tengah desingan peluru, mereka mendidik anak-anaknya dengan Al Qur'an. Dalam ancaman bom, mereka menerapkan pola asuh islami. Dalam suasana perang, anak-anak Gaza ini tumbuh kembang menjadi mujahid sejati.

Kalian tahu apa yang ada dalam benak penduduk Gaza tentang keamanan? 
"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram." (Q.S. 13:28).


Suasana Belajar Mengajar di SD Islam Ramah Anak

Jumat, 02 November 2012

Kumpulan Foto Suasana Belajar Mengajar di SD Islam Ramah Anak Depok

Selalu awali aktivitas belajar dengan Shalat Dhuha bersama (bukan berjamaah)

Melatih anak untuk disiplin

Shalat Dhuha

Senam bersama setiap Jum'at pagi

Senam Jum'at Pagi

Pemanasan sebelum olahraga

Bahan renungan bagi para Orangtua yang selalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya

Senin, 29 Oktober 2012


Ranking 23 : "Aku ingin menjadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan"

Di kelasnya ada 50 orang murid, setiap kali ujian, anak perempuanku tetap mendapat ranking ke-23. Lambat laun membuat dia mendapatkan nama panggilan dengan nomor ini, dia juga menjadi murid kualitas menengah yang sesungguhnya.

Sebagai orangtua, kami merasa nama panggilan ini kurang enak didengar, namun anak kami ternyata menerimanya dengan senang hati.


Suamiku mengeluhkan kepadaku, setiap kali ada kegiatan di perusahaannya atau pertemuan alumni sekolahnya, setiap orang selalu memuji-muji "Superman cilik" di rumah masing-masing, sedangkan dia hanya bisa menjadi pendengar saja.

Anak keluarga orang, bukan saja memiliki nilai sekolah yang menonjol, juga memiliki banyak keahlian khusus. Sedangkan anak nomor 23 di keluarga kami tidak memiliki sesuatu pun untuk ditonjolkan. Dari itu, setiap kali suamiku menonton penampilan anak-anak berbakat luar biasa dalam acara televisi, timbul keirian dalam hatinya sampai matanya bersinar-sinar.

Kemudian ketika dia membaca sebuah berita tentang seorang anak berusia 9 tahun yang masuk perguruan tinggi, dia bertanya dengan hati pilu kepada anak kami: “Anakku, kenapa kamu tidak terlahir sebagai anak dengan kepandaian luar biasa?” Anak kami menjawab: “Itu karena ayah juga bukan seorang ayah dengan kepandaian luar biasa.” Suamiku menjadi tidak bisa berkata apa-apa lagi, saya tanpa tertahankan tertawa sendiri.

Pada pertengahan musim gugur, semua sanak keluarga berkumpul bersama untuk merayakannya, sehingga memenuhi satu ruangan besar di restoran. Topik pembicaraan semua orang perlahan-lahan mulai beralih kepada anak masing-masing. Dalam kemeriahan suasana, anak-anak ditanyakan apakah cita-cita mereka di masa mendatang? Ada yang menjawab akan menjadi pemain piano, bintang film atau politikus, tiada seorang pun yang terlihat takut mengutarakannya di depan orang banyak, bahkan anak perempuan berusia 4½  tahun juga menyatakan kelak akan menjadi seorang pembawa acara di televisi, semua orang bertepuk tangan mendengarnya.

Anak perempuan kami yang berusia 15 tahun terlihat sibuk sekali sedang membantu anak-anak kecil lainnya makan. Semua orang mendadak teringat kalau hanya dia yang belum mengutarakan cita-citanya kelak. Di bawah desakan orang banyak, akhirnya dia menjawab dengan sungguh-sungguh: Kelak ketika aku dewasa, cita-cita pertamaku adalah menjadi seorang guru TK, memandu anak-anak menyanyi, menari dan bermain-main.

Demi menunjukkan kesopanan, semua orang tetap memberikan pujian, kemudian menanyakan akan cita-cita keduanya. Dia menjawab dengan besar hati: Saya ingin menjadi seorang ibu, mengenakan kain celemek bergambar Doraemon dan memasak di dapur, kemudian membacakan cerita untuk anak-anakku dan membawa mereka ke teras rumah untuk melihat bintang-bintang. Semua sanak keluarga tertegun dibuatnya, saling pandang tanpa tahu akan berkata apa lagi. Raut muka suamiku menjadi canggung sekali.


Sepulangnya ke rumah, suamiku mengeluhkan ke padaku, apakah aku akan membiarkan anak perempuan kami kelak menjadi guru TK? Apakah kami tetap akan membiarkannya menjadi murid kualitas menengah?

Sebetulnya, kami juga telah berusaha banyak. Demi meningkatkan nilai sekolahnya, kami pernah mencarikan guru les pribadi dan mendaftarkannya di tempat bimbingan belajar, juga membelikan berbagai materi belajar untuknya. Anak kami juga sangat penurut, dia tidak membaca komik lagi, tidak ikut kelas origami lagi, tidur bermalas-malasan di akhir minggu juga tidak dilakukan lagi. Bagai seekor burung kecil yang kelelahan, dia ikut les belajar sambung menyambung, buku pelajaran dan buku latihan dikerjakan tanpa henti. Namun biar bagaimana pun dia tetap seorang anak-anak, tubuhnya tidak bisa bertahan lagi dan terserang flu berat.Biar sedang diinfus dan terbaring di ranjang, dia tetap bersikeras mengerjakan tugas pelajaran, akhirnya dia terserang radang paru-paru. Setelah sembuh, wajahnya terlihat kurus banyak. Akan tetapi ternyata hasil ujian semesternya membuat kami tidak tahu mau tertawa atau menangis, tetap saja nomor 23.


Kemudian, kami juga mencoba untuk memberikan penambah gizi dan rangsangan hadiah, setelah berulang-ulang menjalaninya, ternyata wajah anak perempuanku semakin pucat saja. Apalagi, setiap kali akan ujian, dia mulai tidak bisa makan dan tidak bisa tidur, terus mencucurkan keringat dingin, terakhir hasil ujiannya malah menjadi nomor 33 yang mengejutkan kami. Aku dan suamiku secara diam-diam melepaskan aksi menarik bibit ke atas demi membantunya tumbuh ini. Dia kembali pada jam belajar dan istirahatnya yang normal, kami mengembalikan haknya untuk membaca komik, mengijinkannya untuk berlangganan majalah "Humor anak-anak" dan sejenisnya, sehingga rumah kami menjadi tenteram kembali. Kami memang sangat sayang pada anak kami ini, namun kami sungguh tidak mengerti akan nilai sekolahnya.

Pada akhir minggu, teman-teman sekerja pergi rekreasi bersama. Semua orang mempersiapkan lauk terbaik dari masing-masing, dengan membawa serta suami dan anak untuk piknik. Sepanjang perjalanan penuh dengan tawa dan guyonan, ada anak yang bernyanyi, ada juga yang memperagakan karya seni pendek. Anak kami tiada keahlian khusus, hanya terus bertepuk tangan dengan gembira. Dia sering kali lari ke belakang untuk menjaga bahan makanan. Merapikan kembali kotak makanan yang terlihat agak miring, mengetatkan tutup botol yang longgar atau mengelap jus sayuran yang bocor ke luar. Dia sibuk sekali bagaikan seorang pengurus rumah tangga cilik.

Ketika makan terjadi satu kejadian di luar dugaan. Ada dua orang anak lelaki, satunya adalah bakat matematika, satunya lagi adalah ahli bahasa Inggris. Kedua anak ini secara bersamaan menjepit sebuah kue beras ketan di atas piring, tiada seorang pun yang mau melepaskannya, juga tidak mau membaginya. Walau banyak makanan enak terus dihidangkan, mereka sama sekali tidak mau peduli. Orang dewasa terus membujuk mereka, namun tidak ada hasilnya. Terakhir anak kami yang menyelesaikan masalah sulit ini dengan cara sederhana yaitu lempar koin untuk menentukan siapa yang menang.

Ketika pulang, jalanan macet dan anak-anak mulai terlihat gelisah. Anakku terus membuat guyonan dan membuat orang-orang semobil tertawa tanpa henti. Tangannya juga tidak pernah berhenti, dia mengguntingkan banyak bentuk binatang kecil dari kotak bekas tempat makanan, membuat anak-anak ini terus memberi pujian. Sampai ketika turun dari mobil bus, setiap orang mendapatkan guntingan kertas hewan shio masing-masing.

Ketika mendengar anak-anak terus berterima kasih, tanpa tertahankan pada wajah suamiku timbul senyum bangga.

Sehabis ujian semester, aku menerima telpon dari wali kelas anakku. Pertama-tama mendapatkan kabar kalau nilai sekolah anakku tetap kualitas menengah. Namun dia mengatakan ada satu hal aneh yang hendak diberitahukannya, hal yang pertama kali ditemukannya selama 30 tahun mengajar.


Dalam ujian bahasa ada sebuah soal tambahan, yaitu siapa teman sekelas yang paling kamu kagumi dan alasannya. Selain anakku, semua teman sekelasnya menuliskan nama anakku. Alasannya sangat banyak: antusias membantu orang, sangat memegang janji, tidak mudah marah, enak berteman, dan lain-lain, paling banyak ditulis adalah optimis dan humoris. Wali kelasnya mengatakan banyak usul agar dia dijadikan ketua kelas saja. Dia memberi pujian: Anak anda ini, walau nilai sekolahnya biasa-biasa saja, namun kalau bertingkah laku terhadap orang, benar-benar nomor satu.

Saya berguyon pada anakku, kamu sudah mau jadi pahlawan. Anakku yang sedang merajut selendang leher terlebih menundukkan kepalanya dan berpikir sebentar, dia lalu menjawab dengan sungguh-sungguh: "Guru pernah mengatakan sebuah pepatah, ketika pahlawan lewat, harus ada orang yang bertepuk tangan di tepi jalan." Dia pelan-pelan melanjutkan: "Ibu, aku tidak mau jadi pahlawan, aku ingin jadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan." Aku terkejut mendengarnya dan mengamatinya dengan seksama.

Dia tetap diam sambil merajut benang wolnya, benang warna merah muda dipilinnya bolak balik di jarum bambu, sepertinya waktu yang berjalan di tangannya mengeluarkan kuncup bunga. Dalam hatiku terasa hangat seketika. Pada ketika itu, hatiku tergugah oleh anak perempuan yang tidak ingin menjadi pahlawan ini. Di dunia ini ada berapa banyak orang yang bercita-cita ingin menjadi pahlawan, namun akhirnya menjadi seorang biasa di dunia fana ini. Jika berada dalam kondisi sehat, jika hidup dengan bahagia, jika tidak ada rasa bersalah dalam hati, mengapa anak-anak kita tidak boleh menjadi seorang biasa yang baik hati dan jujur.

Jika anakku besar nanti, dia pasti akan menjadi seorang isteri yang berbudi luhur, seorang ibu yang lemah lembut, bahkan menjadi seorang teman kerja yang suka membantu, tetangga yang ramah dan baik. Apalagi dia mendapatkan ranking 23 dari 50 orang murid di kelasnya, kenapa kami masih tidak merasa senang dan tidak merasa puas? Masih ingin dirinya lebih hebat dari orang lain dan lebih menonjol lagi? Lalu bagaimana dengan sisa 27 orang anak-anak di belakang anakku? Jika kami adalah orangtua mereka, bagaimana perasaan kami?


PESAN : SYUKURI APA YG ADA, BUKAN MEMIKIRKAN APA YG TIADA... []


Menyiapkan Anak Laki-laki Aqil Baligh

Rabu, 24 Oktober 2012


Menyiapkan Anak Laki-laki Mimpi Basah (‘Aqil Baligh)
oleh Elly Risman

Dear Parents… 
Tahukah anda, bahwa anak laki-laki yang belum baligh dijadikan sasaran tembak bisnis pornografi internasional? Mengapa demikian? Karena anak laki-laki cenderung menggunakan otak kiri dan alat kemaluannya berada di luar. Di berbagai media (Komik, Games, PS, Internet, VCD, HP), mereka menampilkan gambar-gambar yang mengandung materi pornografi, melalui tampilan yang dekat dan akrab dengan dunia anak-anak.

Dengan berbagai rangsangan yang cukup banyak dari media-media tersebut, dan asupan gizi yang diterima anak-anak dari makanannya, hormon testosterone di dalam tubuh bergerak 20 kali lebih cepat. Sehingga, testis mulai memproduksi sperma. Dan kantung sperma menjadi penuh. Karena itu, anak laki-laki kita dengan mudahnya mengeluarkan mani lebih cepat dari yang lainnya dan kadang-kadang, dengan banyaknya ‘rangsangan’ dari berbagai media tersebut, mereka tidak perlu dengan bermimpi !

Dear Parents…
Menyiapkan anak kita memasuki masa baligh adalah tantangan besar bagi kita sebagai orang tua. Kelihatannya sepele, namun sangat penting bagi mereka untuk mengatahui seputar masa baligh agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang memiliki seksualitas yang sehat, lurus dan benar. Memang banyak kendala yang kita hadapi : tabu & saru, bagaimana harus memulainya, kapan waktu yang tepat untuk memulai, sejauh mana yang harus kita bicarakan, dan lain-lain. Memang tidak mudah untuk mendobrak kendala-kendala tersebut, namun jika kita tidak melakukannya sejak dini, bisa jadi mereka mendapatkan informasi-informasi yang salah dari sumber yang tidak jelas.

Jadi, salah satu kewajiban orang tua adalah menyiapkan putra putrinya memasuki masa puber / baligh. Biasanya anak perempuan yang lebih sering dipersiapkan untuk memasuki masa menstruasi. Jarang, para ayah yang menyiapkan anak laki-lakinya menghadapi mimpi basah. Ini adalah tanggung jawab Ayah untuk membicarakannya kepada mereka. Mengapa harus ayah ? Karena anak laki-laki yang berusia di atas 7 tahun, membutuhkan waktu yang lebih banyak dengan ayahnya, dari pada dengan ibunya. Dan jika bicara seputar mimpi basah, ibu tentu tidak terlalu menguasai hal-hal seputar mimpi basah dan tidak pernah mengalaminya bukan ? Namun, bila karena satu hal, ayah tak sempat dan tidak punya waktu untuk itu, ibu-lah yang harus mengambil tanggung jawab ini.

Tips Menyiapkan Anak Laki-laki Menghadapi Mimpi Basah

Untuk pertama kali, kita akan membicarakan tentang apa itu mimpi basah, dan bedanya mani dengan madzi, dan apa yang harus dilakukan jika keluar cairan tersebut. Agar anak bisa membedakan antara mani dengan madzi, persiapkan terlebih dahulu alat-alatnya :
- Untuk mani : Aduk kanji/tepung sagu dengan air, jangan terlalu encer, hingga masih ada butir-butir kecilnya. Beri sedikit bubuk kunyit, hingga menjadi agak kuning. Taruh di wadah/botol.
- Untuk madzi : Beli lem khusus, seperti lem UHU.

Berikutnya siapkan waktu khusus dengan anak untuk membicarakannya. Apa saja yang harus disampaikan :
- Pertama, sampaikan kepada mereka bahwa saat ini mereka telah tumbuh berkembang menjadi remaja, dengan adanya perubahan-perubahan pada fisik mereka. Dan sebentar lagi mereka akan memasuki masa puber / baligh.
Contoh : “Nak.. ayah lihat kamu sudah semakin besar saja ya.. Tuh coba lihat tungkai kakimu sudah semakin panjang, suaramu sudah agak berat. Waah..anak ayah sudah mau jadi remaja nih. Nah, ayah mau bicarain sama kamu tentang hal penting menjelang seorang anak menjadi remaja atau istilahnya ia memasuki masa puber / baligh”

- Di awal, mungkin mereka akan merasa jengah dan malu. Namun, yakinkan kepada mereka, bahwa membicarakan masalah tersebut merupakan tanggung jawab kita sebagai orang tua, yang nanti akan ditanyakan oleh Allah di akhirat.

- Ketika berbicara dengan anak laki-laki yang belum baligh, gunakan the power of touch. Sentuh bahu atau kepala mereka. Hal ini telah dicontohkan oleh Rosulullah Muhammad yang sering mengusap bahu atau kepala anak laki-laki yang belum baligh. Hal ini dapat menumbuhkan keakraban antara ayah dengan anak. Jika sudah baligh, mereka tidak akan mau kita sentuh.

- Gunakan juga jangkar emosi (panggilan khusus, yang bisa mendekatkan hubungan kita dengan anak), misalnya : nak, buah hati papa, jagoan ayah, dan lain-lain.

- Sampaikan kepada anak kita :


Tentang mimpi basah & mani
• Bahwa karena ia telah memiliki tanda-tanda / ciri-ciri memasuki masa puber, maka pada suatu malam nanti, ia akan mengalami mimpi sedang bermesraan dengan perempuan yang dikenal ataupun tidak dikenal. Dan pada saat terbangun, ia akan mendapatkan cairan yang disebut mani. (Kita beri tahukan kepada mereka contoh cairannya, yaitu cairan tepung kanji yang telah kita persiapkan). Peristiwa itu disebut mimpi basah.
• Jika seorang anak laki-laki telah mengalami mimpi basah, tandanya ia sudah menjadi seorang remaja / dewasa muda. Dan mulai saat itu, ia sudah bertanggung jawab kepada Tuhan atas segala perbuatan yang ia lakukan, baik berupa kebaikan maupun keburukan. Pahala dan dosa atas perbuatannya itu akan menjadi tanggungannya. Dalam agama Islam, ia disebut sudah mukallaf.
• Beritahukan kewajiban yang harus dilakukan setelah mengalami mimpi basah (sesuai dengan ajaran agama masing-masing).
Dalam Islam, orang yang mimpi basah diwajibkan untuk mandi besar / mandi junub, yaitu :
1. Bersihkan kemaluan dari cairan sperma yang masih menempel.
2. Cuci kedua tangan.
3. Berniat untuk bersuci ("Aku berniat mensucikan diri dari hadats besar karena Allah"). Minta ia untuk melafalkannya.
4. Berwudhu.
5. Mandi, minimal menyiram air ke bagian tubuh sebelah kanan tiga kali, dan ke bagian sebelah kiri sebanyak tiga kali, hingga seluruh anggota tubuh terkena air.
6. Cuci kaki sebanyak tiga kali.
• Setelah kita terangkan, minta kepadanya untuk mengulangi apa yang telah kita sampaikan.


Tentang madzi

• Jika ia melihat hal-hal / gambar-gambar yang tidak pantas dilihat oleh anak (gambar yang tak senonoh), maka bisa jadi, ia akan mengeluarkan cairan yang disebut madzi. (Kita beri tahukan kepada mereka contoh cairannya, yaitu lem UHU).
• Cara membersihkannya cukup dengan : mencuci kemaluan, mencuci tangan lalu berwudhu.
• Ingatkan kepadanya, jika ia tidak melakukannya, ia tidak bisa sholat dan tidak bisa membaca Al Qur’an.
• Setelah kita terangkan, minta kepadanya untuk mengulangi apa yang telah kita sampaikan.

Hal penting yang harus kita ingat sebelum membicarakan masalah ini kepada anak adalah kita berlatih dahulu bagaimana cara menyampaikannya. Mengapa ? Agar komunikasi yang akan kita lakukan tidak tegang, dan berjalan dengan hangat. Agar anak merasa nyaman dan ia dapat menerima pesan yang kita sampaikan dengan baik.

Selamat mencoba …

-Elly Risman


SDI Ramah Anak Peduli Palestina

Selasa, 23 Oktober 2012


SDI Ramah Anak Depok - Memasuki Bulan Dzulhijjah 1433 H (momentum Idul Adha), SDI Ramah Anak mengadakan Penggalangan Dana dalam rangka membangun kepedulian terhadap saudara-saudara Muslim di Palestina. Kegiatan ini dilakukan selama kurang lebih satu minggu dalam bentuk pengumpulan dana dari para murid, guru, orang tua murid dan lain-lain.

Dana yang terkumpul sebesar Rp 13.270.000 dengan rincian sebagai berikut:

Rp. 4.500.000 (dari infaq murid & POMG)
Rp. 5.000.000 (dari Ummi Hilmi siswa kelas 2 Semangat dan POMG)
Rp. 1.500.000 (dari orangtua Zuhdi siswa kelas 1 Jujur)
Rp. 200.000 (dari infaq pengajian POMG)
Rp. 2.070.000 ( dari orang tua murid lainnya)


Dana tersebut disalurkan melalui Komite Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP) melalui timnya yang datang ke SDI Ramah Anak Depok pada Hari Kamis, 18 Oktober 2012 dan kemudian disalurkan langsung oleh KNRP ke Wilayah Gaza di Palestina. Dana tersebut - bersama dana lain yang digalang oleh KNRP - akan dipergunakan untuk membeli hewan qurban yang akan disembelih dan didistribusikan untuk warga Gaza.



Sebelumnya, para murid diberikan kesempatan untuk menyaksikan film tentang perjuangan anak-anak Palestina yang hidup dalam suasana peperangan dan penjajahan. Dan pada saat penyerahan dana oleh Kepala SDI Ramah Anak Bapak Sep Hanisman, anak-anak pun dibuat terkesan dengan penampilan Ibu-Bapak gurunya yang menampilkan puisi, teater dan nasyid (senandung dadakan).

Dan mereka pun khusyu' berdoa...
Melalui kegiatan ini diharapkan para murid tumbuh kepeduliannya (dalam bentuk latihan berinfaq) kepada saudara-saudara mereka di Palestina khususnya dan saudara-saudara seiman di manapun berada. []