Rabu, 10 Desember 2014

Observasi Calon Siswa Tahun Ajaran 2015/2016

Pada hari Sabtu yang lalu (6 Desember 2014), kami telah melaksanakan kegiatan observasi calon siswa baru (untuk tahun ajaran 2015-2016) yang sudah mendaftarkan diri di SD Islam Ramah Anak. Kegiatan yang diikuti oleh 37 calon siswa baru ini bertujuan untuk mengamati kekhususan masing-masing calon siswa yang nantinya akan mengikuti proses pendidikan di SD Islam Ramah Anak.

Adapun jumlah pendaftar hingga hari ini adalah 52 calon siswa dari kuota 90 orang. Insya Allah untuk tahun ajaran yang akan datang, siswa satu level akan dibagi menjadi 3 kelas (tiap kelas 30 anak dengan 2 orang guru). Pendaftaran akan ditutup jika kuota 90 calon siswa telah terpenuhi.

Senin, 05 Agustus 2013

Parent's Roles (Peran Orang Tua terhadap Pendidikan Anak)

Although a parent’s role in their children’s learning evolves as kids grow, one thing remains constant: we are our children’s learning models. Our attitudes about education can inspire theirs and show them how to take charge of their own educational journey.

Be a role model for learning. In the early years, parents are their children’s first teachers — exploring nature, reading together, cooking together, and counting together. When a young child begins formal school, the parent’s job is to show him how school can extend the learning you began together at home, and how exciting and meaningful this learning can be. As preschoolers grow into school age kids, parents become their children’s learning coaches. Through guidance and reminders, parents help their kids organize their time and support their desires to learn new things in and out of school.

Pay attention to what your child loves. “One of the most important things a parent can do is notice her child. Is he a talker or is he shy? Find out what interests him and help him explore it. Let your child show you the way he likes to learn,” recommends Dalton Miller-Jones, Ph.D.

Tune into how your child learns. Many children use a combination of modalities to study and learn. Some learn visually through making and seeing pictures, others through tactile experiences, like building block towers and working with clay. Still others are auditory learners who pay most attention to what they hear. And they may not learn the same way their siblings (or you) do. By paying attention to how your child learns, you may be able to pique his interest and explain tough topics by drawing pictures together, creating charts, building models, singing songs and even making up rhymes.

Practice what your child learns at school. Many teachers encourage parents to go over what their young children are learning in a non-pressured way and to practice what they may need extra help with. This doesn’t mean drilling them for success, but it may mean going over basic counting skills, multiplication tables or letter recognition, depending on the needs and learning level of your child.
“There may be times to review, but don’t take on the role of drill master,” adds Diane Levin, Ph.D. ” And when you do review it should feel as if your child wants to be a part of the practice.”

Set aside time to read together. Read aloud regularly, even to older kids. If your child is a reluctant reader, reading aloud will expose her to the structure and vocabulary of good literature and get her interested in reading more. “Reading the first two chapters of a book together can help, because these are often the toughest in terms of plot,” notes Susan Becker, M. Ed. “Also try alternating: you read one chapter aloud, she reads another to herself. And let kids pick the books they like. Book series are great for reluctant readers. It’s OK to read easy, interesting books instead of harder novels.”

Connect what your child learns to everyday life. Make learning part of your child’s everyday experience, especially when it comes out of your child’s natural questions. When you cook together, do measuring math. When you drive in the car, count license plates and talk about the states. When you turn on the blender, explore how it works together. When your child studies the weather, talk about why it was so hot at the beach. Have give-and-take conversations, listening to your child’s ideas instead of pouring information into their heads.

Connect what your child learns to the world. Find age-appropriate ways to help your older child connect his school learning to world events. Start by asking questions. For example, ask a second-grader if she knows about a recent event, and what’s she heard. Then ask what she could do to help (such as sending supplies to hurricane victims). You might ask a younger child if he’s heard about anything the news, and find out what he knows. This will help your child become a caring learner.

Help your child take charge of his learning. “We want to keep children in charge of their learning and become responsible for it,” says Dalton Miller-Jones, Ph.D. “We want them to be responsible for their successes and failures, show them how engaging learning is, and that the motivations for learning should be the child’s intrinsic interests, not an external reward.”

Don’t over-schedule your child. While you may want to supplement school with outside activities, be judicious about how much you let or urge your child to do. Kids need downtime as much as they may need to pursue extra-curricular activities. “If a child has homework and organized sports and a music lesson and is part of a youth group in church or synagogue, it can quickly become a joyless race from one thing to another. Therefore, monitor your child to see that he is
truly enjoying what he is doing. If he isn’t, cut something off the schedule,” advises Michael Thompson, Ph.D.

Keep TV to a minimum. “Watching lots of TV does not give children the chance to develop their own interests and explore on their own, because it controls the agenda,” advises Diane Levin, Ph.D. “However, unstructured time with books, toys, crafts and friends allows children to learn how to be in charge of their agenda, and to develop their own interests, skills, solutions and expertise.”

Learn something new yourself. Learning something new yourself is a great way to model the learning process for your child. Take up a new language or craft, or read about an unfamiliar topic. Show your child what you are learning and how you may be struggling. You’ll gain a better understanding of what your child is going through and your child may learn study skills by watching you study. You  might even establish a joint study time.
( by eva )

PS : contact me for translation ^__^

Cara Komunikasi yang Tidak Disukai Anak

Semua orangtua ingin selalu melindungi anak-anaknya agar tidak berbuat kesalahan yang bisa merugikan si anak. Saking khawatirnya, terkadang orangtua malah gagal berkomunikasi dengan anak karena cara komunikasinya tidak disukai anak. Akibatnya, orangtua melakukan komunikasi dengan cara yang justru merusak hubungannya dengan si anak.

Menurut Dr. Jeffrey Bernstein, psikolog dari Philadelphia dan penulis buku '10 Days to a Less Defiant Child' , ada tiga gaya komunikasi orangtua yang tidak disukai anak seperti dilansir Psychology Today , Senin (15/8/2011):

1. Memojokkan dengan rasa bersalah

Biasanya dilakukan dengan cara meminta atau membuat anak merasa berada dalam posisi orangtua atau orang lain dalam situasi tertentu. Orang tua seringkali mencoba membuat anak-anak merasa bersalah atas tindakan atau pikiran mereka. Orang tua yang mengontrol anak-anaknya menggunakan perasaan bersalah ini sebenarnya memiliki risiko mengucilkan anak-anaknya dari mereka sendiri.

Contohnya: Budi (15 tahun) kepergok sedang merokok oleh tetangganya yang kemudian si tetangga melaporkan kepada ibunya. Ibunya menceramahi Budi selama setengah jam dengan pernyataan seperti: "Coba kamu bayangkan betapa malunya Ibu mendengar kasak-kusuk tetangga bilang anak Ibu merokok?" atau "Apa kamu nggak sadar, kamu sudah merusak kepercayaan Ibu sama kamu?".

Cara ini tidak akan berhasil dan justru membuat Budi semakin membuat jarak dengan Ibunya. Yang dibutuhkan Budi sebenarnya hanya dukungan, pemahaman, dan disiplin. Membuat komunikasi dengan bertanya alasan dan kenapa merokok malah membuat si anak biasanya lebih terbuka.

2. Menggunakan Sarkasme atau sindiran

Sindiran adalah mengatakan hal-hal yang berkebalikan dari apa yang sebenarnya ingin dikatakan dan tersirat melalui nada suaranya. Contohnya adalah mengatakan sesuatu seperti: "Pintar sekali kamu" ketika anak melakukan kesalahan atau sesuatu yang buruk. Sarkasme merupakan hambatan bagi orangtua yang ingin berkomunikasi secara efektif dengan anak-anaknya. Berbicara dengan nada positif dan tidak kasar akan membuat anak lebih respek.

3. Menguliahi

Yaitu ketika orangtua datang dan memberikan ceramah bagaimana seharusnya anaknya melakukan sesuatu, bukan memberikan masukan atau saran. Terlalu mengarahkan dan menyetir justru tidak akan didengar oleh anak-anak, atau bahkan malah membuat si anak melakukan kebalikan dari apa yang orangtua perintahkan.

Orangtua yang mendikte anak-anaknya bagaimana seharusnya memecahkan masalahnya dan mengarahkan bahwa anak-anak tidak memiliki kendali atas kehidupannya sendiri, maka mereka akan kehilangan kepercayaan dari anak-anaknya. []

Selasa, 09 April 2013

Pendidikan Melalui Keteladanan

Pendidikan keteladanan di mulai dari keluarga dan diajarkan pula di sekolah. Anak sudah harus diarahkan untuk mengikuti hal-hal baik yang dilakukan oleh para orang dewasa agar mereka mendapatkan contoh konkrit dari apa yang dilihatnya.

Seorang anak adalah mesin foto copy yang canggih, apapun yang diperbuat oleh bapak dan ibunya maupun lingkungan keluarga akan dicontoh oleh si anak,. Tinggal sekarang kemana si anak akan diarahkan? Oleh karena itu bijaklah dalam berbicara maupun bertindak. Ingatlah dalam keluarga ada yang sedang menjiplak anda.

Pendidikan anak diawali dari rumah. Oleh karenanya semakin besar anak, sebagai orang tua harus semakin berhati-hati bertingkah laku & berkata-kata, takut anak meniru yang buruk. Anak-anak adalah peniru yang baik.

Pendidikan keteladanan sebenarnya ada dalam rumah-rumah kita. Dia bersemayam dalam hati kita masing-masing, karena pada hakekatnya keteladanan muncul dari dalam diri.

Hal itu terlihat dari bagaimana seorang ayah yang melindungi anak-anaknya dengan sepenuh hati dan sepenuh jiwa. Bagaimana seorang ibu yang menyayangi anak-anaknya dengan penuh kasih sayang dan belaian lembut seorang ibu. Semua itu mereka lakukan demi keberlangsungan hidup anak-anaknya.

Ketika ayah dan ibu tak lagi menjadi teladan bagi anak-anaknya. Ketika seorang kakak tak memberikan teladan kepada adiknya, dan ketika yang tua tak memberikan teladan kepada yang muda. Apa yang terjadi?
Kita tentu akan melihat bahwa budi pekerti telah hilang dari dalam diri.

Mereka yang muda tentu akan mengikuti gaya orang tuanya. Bila orang tuanya baik, maka anak pun akan cenderung baik. Ketika orang tuanya jahat, maka anak pun akan berkecenderungan jahat pula. Lingkungan sangat membentuk kepribadian anak.

Pendidikan keteladanan harus dimulai dari keluarga. Para orang tua harus dapat memberikan keteladanan kepada anak-anaknya.

Ketika orang tua mengajak anaknya untuk beribadah, maka orang tuanya itu harus memberikan keteladanan lebih dulu. Jangan sekali-kali mengajak anak untuk beribadah, ketika  orang tua tak melakukannya. Sebab bila itu terjadi anak akan protes dan cenderuang memaki dan mengumpat.
Bisa saja keluar kalimat, “ayah saja tidak sholat, dan ibu saja tidak mengaji”.

Pada akhirnya anak melihat kelakuan buruk orang tuanya. Anak akan cepat meniru apa yang dilakukan oleh kedua orang tuanya. Keteladanan positif pun tak terjadi.
Menjadi orang tua ideal perlu ilmu. Menjadi guru ideal juga perlu ilmu. Jika orang tua dan guru mengamalkan ilmunya dengan benar, saya yakin keteladanan bisa diberikan pada anak.

Sayangnya, banyak suami istri tidak mencari ilmu mendidik anak karena sibuk dengan urusan pemenuhan kebutuhan keluarga. Mereka mengandalkan guru di sekolah untuk mendidik anaknya. Namun, ternyata guru telanjur dipusingkan dengan urusan administrasi sekolah dan urusan keluarga. Mereka hanya sempat mentransfer materi pelajaran tapi lupa menanamkan keteladanan.  Kalau sudah begitu, semoga kita tidak termasuk golongan orang yang merugi.

Pendidikan keteladanan harus dipupuk dari anak masih usia dini. Tentu memori otaknya akan menyimpan semua hal baik yang dilihatnya. Tetapi bila kita sebagai orang tua tak memberikan keteladanan, maka jangan salahkan bila anak kita berkelakukan kurang ajar.

Dalam dunia persekolahan kita, pendidikan keteladanan harus diberikan guru kepada anak didiknya. Menyatu dalam kurikulum yang bernama pendidikan karakter atau watak. Di sinilah fungsi mendidik itu diperlukan. Para peserta didik diajarkan bagaimana mencontoh hal-hal baik yang ada dalam kehidupannya sehari-hari.

Banyak orang tua lupa bahwa mereka itu guru pertama bagi anaknya. Keluarga itu adalah sekolah pertama anak. Merah, putih, dan hitamnya anak tergantung pada orang tuanya. Sayangnya, urusan mendidik anak dianggap sebagian orang tua  hanyalah urusan guru di sekolah.

Pendidikan keteladanan akan berjalan dengan baik dalam dunia pendidikan bila kita sebagai orang tua, guru, dan dosen mampu memberikan keteladanan kepada anak-anaknya. Tak perlu ini dan itu dalam memberikan keteladanan, karena keteladanan itu sederhana. Sangat sederhana.
Tetapi kenapa di antara kita sering tak melakukannya???

Selasa, 15 Januari 2013


Ibarat sebuah pintu, surga membutuhkan sebuah kunci untuk membuka pintu-pintunya. Namun, tahukah Anda apa kunci surga itu? Bagi yang merindukan surga, tentu akan berusaha mencari kuncinya walaupun harus mengorbankan nyawa. Tetapi Anda tak perlu gelisah, karena kuncinya dijelaskan dalam hadits Rasul Saw.

عَنْ مُعَاذٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: « مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ صَادِقًا مِنْ قَلْبِهِ، دَخَلَ الْجَنَّةَ » (رواه أحمد)

“Barang siapa yang meninggal dan dia bersaksi tidak ada tuhan selain Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah dengan jujur dari hatinya, maka dia masuk surga.“ (HR. Imam Ahmad dengan sanad yang shahih).

Ternyata, kunci surga itu adalah dua kalimat syahadat yang begitu sering kita ucapkan. Namun semudah itukah surga dapat kita buka dan kita masuki? Ketahuilah, bahwa setiap kunci itu pasti bergerigi. Begitu pula kunci surga pasti memiliki gerigi. Jadi, pintu surga itu hanya bisa dibuka oleh orang yang memiliki kunci yang bergerigi.

Al Imam Al Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya (3/109), bahwa seseorang pernah bertanya kepada Al Imam Wahab bin Munabbih (seorang tabi’in terpercaya dari Shan’a yang hidup pada tahun 34-110 H), “Bukankah Laa ilaaha illallah itu kunci surga?” Wahab menjawab: “Benar, akan tetapi setiap kunci pasti bergerigi. Jika engkau membawa kunci yang bergerigi, maka pintu surga itu akan dibukakan untukmu!”

Lalu, apa gerangan gerigi kunci itu Laa ilaaha illallah itu?
Ketahuilah, gerigi kunci Laa ilaaha illallah itu adalah syarat-syarat Laa ilaaha illallah. Syaikh Abdurrahman bin Muhammad bin Qashim Al Hambali An-Najdi rahimahullah, penyusun kitab Hasyiyyah Tsalatsatil Ushul, pada halaman 52 kitab tersebut menyatakan, syarat-syarat Laa ilaaha illallah itu ada delapan, yaitu:

Pertama: Al ‘Ilmu (Mengetahui)
Maksudnya adalah kita harus mengetahui arti dan makna Laa ilaaha illallah secara benar. Adapun artinya adalah: “Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَنْ عُثْمَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: « مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ ». (رواه مسلم)

“Barang siapa mati dalam keadaan mengetahui bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, niscaya dia akan masuk surga.”(HR. Muslim).

Seandainya Anda mengucapkan kalimat tersebut, tetapi Anda tidak mengerti maknanya, maka ucapan atau persaksian tersebut tidak sah dan tidak ada faedahnya.

Kedua: Al Yaqin (Meyakini)
Maksudnya adalah kita harus menyakini secara pasti kebenaran kalimat Laa ilaaha illallah tanpa ragu dan tanpa bimbang sedikitpun.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: « أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنِّى رَسُولُ اللَّهِ لاَ يَلْقَى اللَّهَ بِهِمَا عَبْدٌ غَيْرَ شَاكٍّ فِيهِمَا إِلاَّ دَخَلَ الْجَنَّةَ ». (رواه مسلم)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak di sembah kecuali Allah dan aku adalah utusan Allah. Tidaklah seorang hamba bertemu dengan Allah sambil membawa dua kalimat syahadat tersebut tanpa ragu kecuali pasti dia akan masuk surga.” (HR. Muslim).

Ketiga: Al Qobul (Menerima)
Maksudnya kita harus menerima segala tuntunan Laa ilaaha illallah dengan senang hati, baik secara lisan maupun perbuatan, tanpa menolak sedikit pun. Anda tidak boleh seperti orang-orang musyrik yang digambarkan oleh Allah dalam Al-Quran:

“Orang-orang yang musyrik itu apabila di katakan kepada mereka: (ucapkanlah) Laa ilaaha illallah, mereka menyombongkan diri seraya berkata: Apakah kita harus meninggalkan sesembahan-sesembahan kita hanya karena ucapan penyair yang gila ini?” (QS. Ash Shaffat: 35-36).

Keempat: Al Inqiyad (Tunduk Patuh)
Maksudnya kita harus tunduk dan patuh melaksanakan tuntunan Laa ilaaha illallah dalam amal-amal nyata. Allah subhanahu wa ta’alaberfirman: 

“Kembalilah ke jalan Tuhanmu, dan tunduklah kepada-Nya.“ (QS. Az Zumar: 54).

Allah Ta’ala juga berfirman:
“Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang pada ikatan tali yang amat kokoh (yakni kalimat Laa ilaaha illallah).” (QS. Luqmaan: 22).

Kelima: Ash Shidq (Jujur atau Benar)
Maksudnya Anda harus jujur dalam melaksanakan tuntutan Laa ilaaha illallah, yakni sesuai antara keyakinan hati dan amal nyata, tanpa disertai kebohongan sedikit pun.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  قَالَ : « مَا مِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ صِدْقًا مِنْ قَلْبِهِ إِلاَّ حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ».
Dari Anas bin Malik, Nabi Shalallahu ‘alahi wa sallam bersabda: “Tidaklah seseorang itu bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak di sembah kecuali Allah dan Muhammad itu adalah hamba dan utusan-Nya, dia mengucapkannya dengan jujur dari lubuk hatinya, melainkan pasti Allah mengharamkan neraka atasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Keenam: Al Ikhlas (Ikhlas)
Maksudnya Anda harus membersihkan amalan Anda dari noda-noda riya’ (amalan ingin di lihat dan dipuji oleh orang lain), dan berbagai amalan kesyirikan lainnya.

 عَنْ عِتْبَانَ بْنَ مَالِكٍ الْأَنْصارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: « فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ» (متفق عليه)

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah semata-mata hanya untuk mengharapkan wajah Allah Azza wa Jalla.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ketujuh: Al Mahabbah (Cinta)
Maksudnya Anda harus mencintai kalimat tauhid, tuntunannya, dan mencintai juga kepada orang-orang yang bertauhid dengan sepenuh hati, serta membenci segala perkara yang merusak tauhid itu. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan di antara manusia ada yang membuat tandingan-tandingan (sekutu) selain Allah yang dicintai layaknya mencintai Allah. Sedangkan orang-orang yang beriman, sangat mencintai Allah di atas segala-galanya.” (QS. Al Baqarah: 165).

Orang yang bertauhid mencintai Allah dengan cinta yang tulus bersih. Sedangkan orang musyrik mencintai Allah dan mencintai tuhan-tuhan yang lainnya. Hal ini tentu sangat bertentangan dengan isi kandungan Laa ilaaha illallah.

Kedelapan: Al Kufru bimaa Siwaahu (Mengingkari Sesembahan yang Lain)
Maksudnya kita harus mengingkari segala sesembahan selain Allah, yakni tidak mempercayainya dan tidak menyembahnya, dan juga kita harus yakin bahwa seluruh sesembahan selain Allah itu batil dan tidak pantas disembah. Allah subhanahu wa ta’ala menyatakan:

“Maka barangsiapa mengingkari thaghut (sesembahan selain Allah) dan hanya beriman kepada Allah, maka sesungguhnya dia telah berpegang teguh pada ikatan tali yang amat kokoh (yakni kalimat Laa ilaaha illallah), yang tidak akan putus….” (QS. Al Baqarah: 256).

Saudaraku kaum muslimin, dari sini dapatlah kita ketahui, bahwa orang yang mengucapkan kalimat Laa ilaaha illallah hanya dengan lisannya tanpa memenuhi syarat-syaratnya, dia bagaikan orang yang memegang kunci tak bergerigi, sehingga mustahil baginya untuk membuka pintu surga, walaupun dia mengucapkannya lebih dari sejuta kali. []

Sabtu, 05 Januari 2013

Hati-Hati Terhadap Maksiat Secara Terbuka

عن أَبي هريرة رضي الله عنه، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم، يقول : (( كُلُّ أُمَّتِي مُعَافى إلاَّ المُجَاهِرِينَ، وَإنّ مِنَ المُجَاهَرَةِ أنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ باللَّيلِ عَمَلاً ، ثُمَّ يُصْبحُ وَقَدْ سَتَرَهُ اللهُ عَلَيهِ ، فَيقُولُ : يَا فُلانُ ، عَمِلت البَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا ، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ ، وَيُصبحُ يَكْشِفُ ستْرَ اللهِ عَنْه )) مُتَّفَقٌ عَلَيهِ 

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Semua umatku diampuni kecuali al-mujaharun (pelaku maksiat terang-tarangan). Dan diantara bentuk mujaharah itu, seorang yang melakukan perbuatan (dosa) pada malam hari, lalu di pagi harinya ia berkata, sementara Allah Ta’ala telah menutupi (kesalahannya): Wahai fulan, semalam aku melakukan ini dan itu, padahal semalam Rabb-nya telah menutupinya, namun dipagi hari ia menyingkap tutupan Allah atas dirinya”. (HR. Bukhari no. 6069, dan Muslim no. 2990).

Mutiara hadits:
1. Luasnya rahmat dan ampunan Allah Ta’ala bagi Hamba-Nya. Dimana setiap kesalahan yang dilakukan seorang hamba, akan ditutupi oleh Allah Ta’ala agar tidak tersebar di muka bumi yang menjadikan pelakunya berada dalam haraj (beban psikologi) dan rasa malu. Yang demikian itu sebagai manifestasi dari Nama-Nya yang mulia, yakni as-Sittir (Yang Maha Menutupi).

2. Al-Mujaharah artinya, seorang yang melakukan kesalahan secara sembunyi-sembunyi, lalu pada pagi harinya (atau setelahnya itu) ia menceritakan di hadapan khalayak. Pelaku perbuatan ini dinamakan sebagai mujahir (yang melakukan terang-terangan) kendati pada hakikatnya ia kerjakan secara tersembunyi, sebab dia sendiri yang membongkar keadaannya. Dan dapat pula berarti, seorang yang melakukannya secara terang-terangan tanpa merasa malu dan risih terhadap orang lain. 

3. Manfaat menyembunyikan dosa bagi seorang muslim sangat banyak, diantaranya: Pertama, Ia tidak mendapat kerendahan dan kehinaan di mata manusia, sebab dosa merupakan kehinaan bagi pelakunya. Kedua, bahwasanya ia merupakan kesalahan yang harus mendapat hukuman, namun kala tidak dizahirkan, tuntutan hukuman di dunia gugur. Ketiga, tidak menceritakan maksiat merupakan bukti adanya rasa malu terhadap Allah dan manusia, yang karenanya sangat mungkin hamba itu akan sadar dan bertaubat dari kesalahannya.

4. Menampakkan perbuatan maksiat baik melalui lisan atau prilaku, mandapat acaman keras, sebab ia merupakan pengkhianatan terhadap tutupan Allah atasnya, serta dapat menggerakkan keinginan buruk bagi orang yang mendengarkan atau menyaksikan. Kedua hal ini merupakan satu pelanggaran disamping pelanggaran dosa yang ia lakukan itu. Adapun jika diselingi anjuran kepada orang lain serta menunjukkan padanya cara melakukannya, maka ini menjadi kesalahan yang keempat dan semakin membuat keji perkaranya. Disamping itu, terang-terangan melakukan maksiat, membuat pelaku dan orang yang menyaksikannya tidak lagi merasa jijik dan malu terhadap perbuatan maksiat itu, disamping ia menjadikan maksiat pribadi menjelma menjadi maksiat sosial yang kerusakannya menimpa seluruh kalangan masyarakat. Dan hal ini merupakan pelecehan terhadap hak Allah dan Rasul-Nya yang melarang segala perbuatan dosa. Dan ancaman ini termaktub dalam firman Allah surah an-Nuur ayat 19.

5. Termasuk diantara larangan tersebut, menceritakan dosa dan maksiat yang pernah ia lakukan tidak untuk satu mashlahat, kendati ia telah bertaubat darinya. Imam an-Nawawi berkata: Dibenci bagi seorang yang terfitnah oleh perbuatan maksiat, menceritakannya kepada orang lain. Namun yang harus ia lakukan adalah segera meninggalkan dosa itu, menyesal terhadapnya dan berazam untuk tidak mengulanginya. Adapun jika menceritakannya kepada Syaikh-nya (gurunya) dan selainnya untuk tujuan agar mereka mengajari jalan keluar dan cara-cara menyelamatkan diri darinya atau mengetahui sebab-sebab yang membuatnya tergelincir atau agar mereka mendoakan (kebaikan) baginya, maka itu adalah perbuatan yang baik. Karena yang dibenci (dilarang) itu, jika tidak ada mashalat yang dipetik dari menceritakan perbuatan maksiat tersebut.

6. Makna lain dari hadits ini, seperti diungkapkan oleh at-Thiby, bahwa “seluruh umatku diampuni”, yakni tidak boleh dighibah (diceritakan keburukannya) kecuali orang yang melakukannya secara terang-terangan. Artinya, seorang yang melakukan maksiat secara terang-terangan baik dengan prilaku atau menceritakannya kepada orang lain lain, maka boleh dibeberkan dosa-dosanya, baik di depan hakim atau selainnya untuk satu mashlahat, misalnya agar orang lain tidak terpengaruh. Akan tetapi, tetap dalam koridor sebatas dosa dan kesalahan yang ia nampakkan dan tidak boleh melampaui batas pada kesalahan yang ia tidak nampakkan.

7. Diantara keutamaan menjaga tutupan Allah atas diri, dan tidak menyingkapnya di hadapan manusia adalah, sikap ini dapat menjadi sebab Allah Ta’ala menutupi dan mengampuni dosa-dosa hamba di Akhirat kelak. Ibnu Mas’ud dan Aisyah meriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah Allah Ta’ala menutupi (dosa) seorang hamba di dunia, melainkan Ia akan menutupinya pula di akhirat”. Wallahu a’lam. 

Minggu, 09 Desember 2012


Kesuksesan seseorang diawali dengan sikap lapang dada menghadapi berbagai tantangan. Orang sempit dada sulit maju karena kekerdilan dan kepicikan jiwa. 

Agar sukses dalam membawa misi, Nabi Musa memohon kelapangan dada. Berkata Musa, “Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku.” (QS Thaha [20]: 25).

Sebelum Rasulullah SAW mengemban tugas risalah, beliau juga dilapangkan dadanya terlebih dahulu. “Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?” (QS Al-Insyirah [94]: 1).

Walau Nabi SAW sudah dilapangkan dadanya, saat menghadapi hinaan kaum Quraisy, masih merasa kesempitan dada. Allah menegaskan, “Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan.” (QS Al-Hijr [15]: 97).

Intimidasi kaum Quraisy ini mendesak Rasulullah untuk meminta perlindungan kerabatnya di Thaif. Namun, saat ke Thaif beliau dilempari batu oleh budak-budak yang dikerahkan oleh para tuan mereka. Saking beratnya penderitaan Nabi saat itu, Allah mengutus Malaikat Jibril dan menawarkan diri untuk menyiksa panduduk Thaif.

Namun, Rasul SAW tak ingin melakukan hal itu. Beliau hanya berdoa, “Ya Allah berilah petunjuk kaumku karena mereka tidak mengetahui.”

Allah berfirman, “Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat), dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” (QS Al-Hijr [15]: 98-99).

Berdasarkan ayat di atas, untuk menghadapi berbagai penyebab kesempitan dada, Allah memberikan petunjuk tiga hal. Pertama, memperbanyak zikrullah, bertasbih dengan memuji Allah. Zikrullah adalah penyebab masuk surga. (QS Ali Imran [3]: 133-134). Zikrullah adalah amalan utama untuk menuju surga dan dengan zikrullah hati menjadi tenang. (QS Ar-Ra’du [13]: 28).

Abdullah bin Bashar RA meriwayatkan, seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya pintu kebajikan sangat banyak dan aku tidak bisa melaksanakan semuanya, maka beritahukan kepadaku suatu amalan yang bisa aku selalu pegang tapi tidak terlalu banyak, nanti aku lupa.” Beliau menjawab, “Hendaklah lisanmu selalu dibasahi dengan zikrullah.” (HR Tirmizi).

Kedua, memperbanyak sujud. Dengan banyak sujud berarti kita banyak menunaikan shalat, khususnya yang wajib ditambah dengan nawafil (sunah). Dan ini adalah sebab masuk surga.

Rabi’ah bin Ka’b Al-Aslami berkata, “Aku menginap di rumah Rasulullah untuk melayani wudhu dan semua kebutuhannya.” Lalu beliau bersabda, “Mintalah (sesuatu) kepadaku!” Aku berkata, “Aku memohon agar bisa bersamamu di surga.” Beliau bersabda, “Apakah tidak ada yang lain?” Aku menjawab, “Itu saja.” Lalu Beliau bersabda, “Untuk itu, bantulah aku dengan memperbanyak sujud.” (HR Muslim dan Abu Daud).

Ketiga, menjadikan semua aktivitas hidup dalam kerangka ibadah kepada Allah. (QS Al-An’am [6]: 162). Kalau kita memiliki etos hidup seperti ini, kita akan merasa nyaman karena senang bersyukur dan susah bersabar, semua akan berpahala.

Minggu, 25 November 2012


Perkembangan kecerdasan anak ditentukan oleh 2 HAL, yaitu JUMLAH SEL OTAK dan yang lebih lagi adalah JUMLAH DAN KEKUATAN INTERKONEKSI ANTAR SEL OTAK.

Dalam bukunya yang berjudul Brain Child,Tony Buzan menyebutkan 4 unsur makan yang dibutuhkan oleh otak, yaitu:
Oksigen merupakan unsur utama yang diperlukan oleh otak, yang menjadi ‘bahan bakar’ supaya ‘mesin’ otak berjalan dengan performa yang sangat tinggi. Begitu ‘bahan bakar’ oksigen ini tidak bisa disuplai dengan baik, ‘mesin’ otak akan mengalami kerusakan fatal.
Pastikan anak mendapatkan kualitas oksigen yang sangat baik dan dalam jumlah yang cukup. Permainan yang menggunakan fisik akan sangat baik untuk membantu mengalirkan oksigen ke otak dengan lancar dan cukup.
Hindari lingkungan yang banyak polusi udara, terutama lingkungan yang banyak mengandung gas buang kendaraan bermotor, karena unsur kimia di dalam gas buang seperti CO dan Pb adalah MUSUH UTAMA otak anak jika kita menginginkan anak kita tumbuh dengan cerdas.
Milyaran sel otak anak memperoleh sebagian besar energinya dari makanan dan minuman yang setiap hari anda sediakan. Kandungan nutrisi di dalam makanan dan minuman itulah yang akan menentukan seberapa besar energi yang bisa disuplai ke otak.
JANGAN terpengaruh dengan berbagai macam iklan tentang makanan otak yang terlalu menonjolkan unsur AA, DHA, dan sejenisnya itu. Unsur tersebut memang perlu, tetapi yang lebih penting lagi adalah pola makan yang bervariasi, seimbang antara kandungan vitamin, mineral, protein, karbohidrat dan lemak.
Kasih Sayang merupakan salah satu unsur makanan otak yang SANGAT PENTING, dan benar-benar dibutuhkan oleh anak supaya bisa hidup.
Kasih Sayang ternyata tidak hanya mempengaruhi perkembangan emosi anak, tetapi juga memberikan pengaruh besar terhadap arsitektur otak.
Karena Kasih Sayang ini bentuknya sangat abstrak, kadang-kadang kita orangtua kurang memahami benar apa yang perlu kita lakukan untuk mengekspresikan kata Kasih Sayang ini.
Informasi adalah makanan otak yang MAMPU membuat jaringan antar sel-sel otak saling bersambungan dengan kuat dan dalam jumlah yang sangat banyak. Seperti kita ketahui, kecerdasan seorang anak ditentukan seberapa banyak dan kuatnya jaringan antar sel-sel otaknya.
Sumber informasi yang diterima oleh anak melalui panca inderanya berasal dari lingkungan alam dimana anak tinggal. Untuk itu kita perlu memberikan sebanyak mungkin PENGALAMAN berbagai hal supaya anak memperoleh sebanyak mungkin informasi. Pengalaman yang diterima oleh anak akan menentukan bentuk jaringan di dalam otak, atau dengan kata lain, akan menentukan tingkat kecerdasan anak.
Selain alam, sumber informasi TERPENTING bagi anak adalah ANDA, kita sebagai orangtua. Jawaban jawaban kita terhadap segala pertanyaan anak yang mana rasa ingin tahunya sedang berada di puncaknya ini akan menjadi informasi yang melekat kuat di dalam diri anak. Yang perlu diingat adalah SIKAP kita dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Kesalahan sikap dalam menjawab akan MEMATIKAN rasa ingin tahu anak, dan akan menyebabkan anak menutup diri untuk menerima informasi-informasi dari luar. Jangan sampai ini terjadi!

Bagaimana hubungan KASIH SAYANG dengan ARSITEKTUR OTAK?
Berikut ini kutipan tulisan buku ”Brain Child”-nya Tony Buzan yang memberikan bukti hubungan tersebut.

Kisah tentang Dua Bayi Kera
Kasih sayang membuat sistem otak dan tubuh membuka diri, berfungsi dengan baik, menerima, melakukan eksplorasi, dan berkembang.
jika anda merasa belum sepenuhnya mengungkapkan rasa kasih sayang anda terhadap sang buah hati di rumah,

Ketika Jeepers dilahirkan di sebuah kebun binatang, ibunya memberikan dia perhatian sebagaimana normalnya seekor ibu kera, membawanya kemanapun dalam gendongannya, merawatnya, ”meninjunya sekali-sekali” ketika dia menjadi pengganggu, berceloteh padanya juga dengannya, dan menyusuinya kapanpun dia menginginkan makanan. Mereka hidup dalam sebuah sangkar yang merupakan sebuah komunitas kera, dan Jeepers dengan cepat berlari-larian gembira bersama bayi-bayi kera lainnya.
Creepers tidak seberuntung itu. Ibunya mati sesaat setelah dia lahir, dan Creepers ditinggal dalam sebuah kandang yang di dalamnya hanya ada beberapa kera laki-laki yang lebih dewasa. Pemiliknya memberinya makan pada waktu-waktu tertentu, tapi tidak ada kera lain yang menimangnya, berceloteh padanya, merawatnya, dan peduli padanya. Dia duduk sendirian sepanjang hari, biasanya diam membisu, tampak sedih.
Kurang lebih setahun setelah kelahirannya, sebuah infeksi menyerang kebun binatang dan Jeepers dan Creepers mati dengan menyedihkan. Seorang psikolog yang menaruh minat pada perilaku kera melakukan otopsi otak kedua kera tersebut. Dia mendapati dengan takjub bahwa:
Jeepers memiliki sistem saraf mental yang berkembang baik, mirip sekali dengan sebatang pohon ek dengan jutaan cabang yang berjalinan dengan rumitnya.
Sistem saraf mental Creepers, sebaliknya, tampak seperti pohon kering. Benar-benar tidak berkembang!
Jelas sekali, bukti diatas menunjukkan betapa KASIH SAYANG sangat mempengaruhi perkembangan jaringan otak, yang artinya mempengaruhi perkembangan kecerdasan anak.


Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More